๐
Menginisialisasi NihongoRoute
Bab ini membahas cara menyatakan urutan aktivitas, daftar kegiatan acak, meminta izin, dan mencoba hal baru. Pembaca juga mempelajari kanji terkait udara dan siang serta kosakata penting N4.
Siap naik level ke N4? Bab ini akan membantumu menguasai cara menceritakan urutan kejadian secara kronologis, menyebutkan berbagai aktivitas santai saat liburan tanpa urutan kaku, meminta izin dengan sopan, hingga mengekspresikan keberanian mencoba hal-hal baru. Sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi harianmu!
Digunakan untuk menyatakan bahwa suatu aktivitas dilakukan setelah aktivitas lain selesai secara pasti. Rumus Penggunaan: 1. Kata Kerja bentuk Lampau (~ta) + ato de 2. Kata Benda + no + ato de Catatan: Hubungan waktu pada pola ini bersifat kronologis jelas. Tindakan pertama harus selesai sepenuhnya sebelum tindakan berikutnya dimulai.
Contoh Kalimat (Examples)
Juudou no renshuu no ato de, shawaa o abimasu.
Setelah latihan judo, saya mandi.
Pan o yaita ato de, jamu o nurimasu.
Setelah memanggang roti, saya mengoleskan selai.
Digunakan untuk menyebutkan beberapa contoh kegiatan secara acak dari banyak aktivitas yang dilakukan (misalnya saat menceritakan hobi atau kegiatan di hari libur). Rumus Penggunaan: [Kata Kerja bentuk ใ] + ใ, [Kata Kerja bentuk ใ] + ใ + ใใ Catatan: - Pola ini tidak menunjukkan urutan waktu kejadian. - Kalimat wajib diakhiri dengan kata kerja bantu 'suru' (bisa dikonjugasikan menjadi 'shimasu' atau 'shimashita').
Contoh Kalimat (Examples)
Hiruma wa tenisu o shitari, kyoukai ni ittari shimashita.
Siang hari saya bermain tenis, pergi ke gereja, dan sebagainya.
Koujou de kenbutsu shitari, shashin o tottari shimasu.
Di pabrik kami melihat-look, mengambil foto, dan sebagainya.
Menunjukkan hubungan kronologis yang kuat, dengan makna 'setelah... baru...'. Rumus Penggunaan: [Kata Kerja bentuk ใฆ] + ใใ Catatan: Pola ini menekankan bahwa tindakan kedua baru bisa, boleh, atau akan dilakukan setelah tindakan pertama diselesaikan sepenuhnya sebagai prasyarat mutlak.
Contoh Kalimat (Examples)
Yubiwa o katte kara, kanojo no ie ni ikimashita.
Setelah membeli cincin, baru saya pergi ke rumahnya.
Shiai no basho o shirasete kara, kippu o urimasu.
Setelah mengabarkan tempat pertandingan, baru tiketnya dijual.
Rumus andalan untuk menanyakan izin ('bolehkah saya melakukan ini?') atau untuk memberikan izin ('kamu boleh melakukan ini') kepada lawan bicara. Rumus Penggunaan: - Memberi izin: [Kata Kerja bentuk ใฆ] + ใใใใงใ - Meminta izin: [Kata Kerja bentuk ใฆ] + ใใใใงใใ
Contoh Kalimat (Examples)
Nikaidate no heya ni futon o kazatte mo ii desu ka.
Bolehkah memajang futon di kamar bangunan dua lantai ini?
Hiruma, kono mizuumi de oyoide mo ii desu.
Siang hari, boleh berenang di danau ini.
Digunakan untuk mengekspresikan tindakan 'mencoba melakukan sesuatu' demi mengetahui hasilnya, memuaskan rasa penasaran, atau mencari pengalaman baru. Rumus Penggunaan: [Kata Kerja bentuk ใฆ] + ใฟใ Catatan: Kata kerja 'miru' di sini berfungsi sebagai kata kerja bantu dan dapat dikonjugasikan seperti kata kerja biasa (misalnya: mimasu, mite kudasai, mitai).
Contoh Kalimat (Examples)
Atarashii sutereo no oto o kiite mimasu.
Saya akan mencoba mendengarkan suara sistem stereo yang baru.
Nihon no bungaku o yonde mimasu.
Saya akan mencoba membaca kesusastraan Jepang.
Ayo kuasai kanji Bab 18 dengan mudah! Kamu bisa mempelajari urutan goresan (stroke order) dan memahami arti mendalam dari setiap karakter langsung di halaman Kanji khusus NihongoRoute.
Futon (ๅธๅฃ) dan Kebiasaan Siang Hari (ๆผ้)
Pernah melihat kasur digantung di balkon apartemen Jepang saat siang terik? Itu adalah Futon (ๅธๅฃ)! Orang Jepang terbiasa menjemurnya di bawah sinar matahari langsung agar tetap empuk, kering, higienis, dan terbebas dari tungau (dani). Setelah dijemur dan dipukul dengan alat pemukul khusus, futon dilipat rapi lalu disimpan di dalam oshiire (lemari dinding khas Jepang) agar ruangan tetap multifungsi dan bersih.
Budaya Mengirim Hadiah (ใใใใใฎ)
Budaya memberi hadiah atau Okurimono (่ดใ็ฉ) adalah pilar penting untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial (Wa) di Jepang. Baik saat kamu bertamu ke rumah orang (Temiyage), diundang ke sebuah acara (Shoutai), maupun sebagai bentuk apresiasi atas bantuan seseorang. Hadiah di Jepang tidak dinilai semata-mata dari harganya, melainkan dari ketulusan serta keindahan seni membungkusnya yang sangat estetik!
Yamada: Bagaimana kalau siang ini kita jalan-jalan melihat pemandangan di danau itu dulu, baru setelah itu kita coba bermain tenis? Adit: Ide bagus! Tapi sebelum itu, bolehkah saya membeli roti di tempat penjualan dekat sini? Yamada: Oh tentu saja boleh. Setelah rotinya dipanggang nanti, mari kita coba makan dengan diolesi selai!