Dibandingkan dengan bentuk hormat khusus (seperti 'ossharu' untuk 'iiteru' atau 'nasaru' untuk 'suru'), bentuk pasif kehormatan ini memiliki tingkat kesopanan tingkat menengah. Hal ini menjadikannya sangat populer dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari di dunia kerja atau sekolah karena nuansanya yang natural dan tidak terlalu kaku.
### Aturan Perubahan Kata Kerja:
- Golongan 1 (Godan-doushi): Ubah bunyi akhiran hiragana baris -u ke baris -a, lalu tambahkan reru.
- Iku (pergi) -> Ikareru
- Yomu (membaca) -> Yomareru
- Kaku (menulis) -> Kakareru
- Golongan 2 (Ichidan-doushi): Hilangkan akhiran ru, lalu tambahkan rareru.
- Taberu (makan) -> Taberareru
- Miru (melihat) -> Mirareru
- Golongan 3 (Irregular):
- Suru (melakukan) -> Sareru
- Kuru (datang) -> Korareru
### ⚠️ Perangkap / Kesalahan Umum:
- Dilarang untuk Diri Sendiri! Bentuk kehormatan ini mutlak hanya digunakan untuk subjek orang lain yang dihormati. Menggunakannya untuk menceritakan tindakan diri sendiri adalah kesalahan tata bahasa yang fatal.
- Kemiripan Bentuk Kata Kerja: Bentuk pasif kehormatan ini memiliki bentuk yang sama persis dengan bentuk pasif biasa (ukemi) dan bentuk potensial (bisa/dapat). Anda harus memperhatikan konteks kalimat secara keseluruhan untuk menentukan arti yang tepat. Contoh: Taberareru bisa berarti 'dimakan' (pasif), 'bisa makan' (potensial), atau 'makan' (hormat).