Bentuk pasif (受身形 - ukemikei) digunakan untuk menyatakan bahwa subjek menerima tindakan dari orang lain atau lingkungan sekitar. Dalam bahasa Jepang, bentuk pasif dibagi menjadi dua fungsi utama:
- Pasif Langsung (Direct Passive): Sama seperti bahasa Indonesia, di mana subjek dikenai tindakan langsung oleh pelaku. Pelaku tindakan ditandai dengan partikel に (ni). Contoh: 'Saya dipuji oleh guru'.
- Pasif Tidak Langsung / Penderitaan (Adversative Passive): Ciri khas bahasa Jepang untuk menunjukkan bahwa subjek merasa terganggu, dirugikan, atau mengalami kesulitan akibat tindakan orang lain atau kejadian alam. Contoh: 'Kehujanan' (hujan turun membuat saya repot) atau 'Kaki diinjak' (saya merasa terganggu).
### Perubahan Kata Kerja Ke Bentuk Pasif:
- Golongan 1 (Godan): Ubah akhiran vokal u menjadi baris a, lalu tambahkan れる (reru). Contoh: 書く (kaku) -> 書かれる (kakareru). Khusus kata kerja berakhiran ~う (u) seperti 買う (kau), ubah menjadi わ (wa), bukan あ (a) -> 買われる (kawareru).
- Golongan 2 (Ichidan): Buang akhiran る (ru), tambahkan られる (rareru). Contoh: 食べる (taberu) -> 食べられる (taberareru).
- Golongan 3 (Tidak Beraturan): する (suru) menjadi される (sareru), 来る (kuru) menjadi こられる (korareru).
⚠️Perangkap / Kesalahan Umum:
- Salah Menggunakan Partikel Pelaku: Pelaku tindakan pasif harus ditandai dengan partikel に (ni), bukan を (o) atau が (ga). Contoh salah: 先生が褒められました (Sensei ga homeraremashita) yang berarti 'Guru yang dipuji'. Contoh benar: 先生に褒められました (Sensei ni homeraremashita) yang berarti 'Saya dipuji oleh guru'.
- Kemiripan dengan Bentuk Potensial: Untuk kata kerja Golongan 2, bentuk pasif (られる) memiliki bentuk yang sama persis dengan bentuk potensial (bisa/dapat). Anda harus melihat konteks kalimat untuk membedakannya. Contoh: 食べられる bisa berarti 'dimakan' (pasif) atau 'bisa dimakan' (potensial).