đ
Initializing NihongoRoute
Sistem keluarga Jepang didasarkan pada konsep In-group (Uchi) vs Out-group (Soto). Pahami mengapa Anda harus merendahkan sebutan keluarga sendiri saat berbicara dengan orang luar.
bentar / sedikit
pas banget / tepat
makin lama makin...
gimana / kayak apa
kenapa / kok bisa
silakan / monggo
pertama kali
beneran / sungguh-sungguh
berapa (harga/jumlah)
berapa (jumlah benda / umur)
kayak biasanya / tiap saat
pasti (yakin banget)
masih / belum (tergantung konteks)
lagi / sampai jumpa
semua orang / semuanya
ya iyalah / tentu dong
lebih lagi / tambah lagi
sudah / udah (+ positif) / nggak lagi (+ negatif)
kenapa (lebih formal)
segitunya / sebegitu (biasanya diikuti negatif)
Budaya Jepang sangat menekankan pada kelompok. Keluarga Anda adalah bagian dari 'Uchi' (Dalam/Diri sendiri). Dalam percakapan, terdapat aturan kesopanan di mana Anda harus merendahkan diri sendiri dan kelompok Anda (Humble) saat berhadapan dengan orang 'Soto' (Luar/Orang asing/Pelanggan/Atasan).
Inilah alasan mengapa terdapat dua set kosakata keluarga. Saat menceritakan ibu Anda kepada rekan bisnis, Anda menyebutnya 'Haha'. Namun, saat Anda memanggil ibu Anda di rumah atau menyebut ibu orang lain, Anda menggunakan 'Okaasan'. Menggunakan 'Okaasan' untuk menyebut ibu sendiri di depan orang luar dianggap kekanak-kanakan atau kurang sopan karena Anda 'meninggikan' kelompok sendiri di depan orang lain.
âą Keluarga Sendiri (Humble): Haha (Ibu), Chichi (Ayah), Ani (Kakak Laki-laki), Ane (Kakak Perempuan). âą Keluarga Orang Lain (Honorific): Okaasan (Ibu), Otousan (Ayah), Oniisan (Kakak Laki-laki), Oneesan (Kakak Perempuan).
Gunakan partikel 'No' untuk menyatakan hubungan atau kepemilikan. Format: [Pemilik] + ăź + [Benda/Hubungan]. Contoh: 'Watashi no ane' (Kakak perempuan saya). Dalam konteks keluarga sendiri, 'Watashi no' sering dihilangkan jika sudah jelas.