š
Initializing NihongoRoute
Jepang menyumbangkan konsep rasa kelima ke dunia: Umami. Pelajari sejarah penemuannya, cara mendeskripsikan tekstur makanan, serta etiket menolak makanan secara halus.
bentar / sedikit
pas banget / tepat
makin lama makin...
gimana / kayak apa
kenapa / kok bisa
silakan / monggo
pertama kali
beneran / sungguh-sungguh
berapa (harga/jumlah)
berapa (jumlah benda / umur)
kayak biasanya / tiap saat
pasti (yakin banget)
masih / belum (tergantung konteks)
lagi / sampai jumpa
semua orang / semuanya
ya iyalah / tentu dong
lebih lagi / tambah lagi
sudah / udah (+ positif) / nggak lagi (+ negatif)
kenapa (lebih formal)
segitunya / sebegitu (biasanya diikuti negatif)
Pada tahun 1908, fisikawan Jepang Kikunae Ikeda menemukan rasa unik pada kaldu rumput laut (Dashi) yang tidak bisa dikategorikan sebagai manis, asam, asin, atau pahit. Ia menamainya **Umami** (secara harfiah: rasa gurih yang lezat). Umami berasal dari asam glutamat alami yang menjadi inti dari kelezatan masakan Jepang tradisional atau **Washoku**, yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.
Selain rasa, orang Jepang sangat peduli pada **Shokukan** (tekstur makanan). Anda akan sering mendengar kata Onomatopoeia seperti 'Fuwa-fuwa' (lembut berawan), 'Mochi-mochi' (kenyal kenyal), atau 'Kari-kari' (garing renyah). Memuji tekstur sama pentingnya dengan memuji rasa masakan.
Hindari 'Sashi-bashi' (menusuk makanan dengan sumpit) dan 'Mayo-bashi' (menggerakkan sumpit di atas makanan tanpa mengambilnya). Hal ini dianggap sangat tidak beretika.
⢠Suki: Suka (Umum). ⢠Nigate: Kurang bisa/Kurang cocok. Dalam budaya Jepang, jangan gunakan kata 'Kirai' (Benci) karena terlalu kasar. Gunakan 'Nigate' untuk menolak makanan secara sopan. Contoh: 'Natto wa chotto nigate desu' (Saya kurang bisa makan Natto).