š
Initializing NihongoRoute
Interaksi sosial di Jepang didorong oleh konsep 'Wa' (Harmoni). Pelajari struktur perkenalan diri yang natural, etiket derajat membungkuk (Ojigi), dan salam berbasis waktu secara detail.
bentar / sedikit
pas banget / tepat
makin lama makin...
gimana / kayak apa
kenapa / kok bisa
silakan / monggo
pertama kali
beneran / sungguh-sungguh
berapa (harga/jumlah)
berapa (jumlah benda / umur)
kayak biasanya / tiap saat
pasti (yakin banget)
masih / belum (tergantung konteks)
lagi / sampai jumpa
semua orang / semuanya
ya iyalah / tentu dong
lebih lagi / tambah lagi
sudah / udah (+ positif) / nggak lagi (+ negatif)
kenapa (lebih formal)
segitunya / sebegitu (biasanya diikuti negatif)
Dalam sosiolinguistik Jepang, perkenalan diri (Jiko Shoukai) bukan sekadar bertukar nama, melainkan sebuah ritual untuk menempatkan diri dalam struktur sosial. Struktur standar melibatkan: 1. Hajimemashite (Salam pembuka yang berarti 'untuk pertama kalinya'), 2. Identitas (Nama, pekerjaan, atau asal), dan 3. Yoroshiku Onegaishimasu (Permohonan komitmen untuk hubungan baik di masa depan).
Bagi orang asing, sangat disarankan menggunakan pola '~to iimasu' (Saya dipanggil...) karena memberikan nuansa 'Kenkyo' (rendah hati). Menggunakan '~desu' secara berlebihan terkadang terdengar terlalu kaku atau terlalu percaya diri bagi pemula di situasi formal.
Membungkuk adalah bahasa tubuh yang setara dengan jabat tangan namun dengan aturan derajat: ⢠Eshaku (15°): Untuk menyapa rekan setara atau berpapasan. ⢠Keirei (30°): Standar formal untuk atasan atau pelanggan. ⢠Saikeirei (45°): Ungkapan rasa hormat tertinggi atau permohonan maaf yang sangat tulus.
⢠Ohayou Gozaimasu: Digunakan hingga sekitar jam 10 pagi. Di dunia kerja kreatif, ini digunakan saat pertama kali bertemu hari itu meski sudah siang. ⢠Konnichiwa: Digunakan mulai jam 11 siang hingga matahari terbenam. Secara harfiah berarti 'Hari ini adalah...'. ⢠Konbanwa: Salam pertemuan malam hari. Berbeda dengan 'Good night', ini hanya untuk menyapa saat bertemu.