đ
Initializing NihongoRoute
Warnai kalimat Anda! Kenali dua keluarga besar kata sifat dalam bahasa Jepang (Akhiran-i dan Akhiran-na), cara merubahnya menjadi bentuk negatif, dan cara menggunakannya untuk mendeskripsikan kata benda.
besar
kecil
tinggi / mahal
murah
baru
lama / kuno (untuk benda)
baik
buruk
panas (benda/suhu)
dingin (misalnya cuaca)
sejuk
hangat
susah / sulit
mudah
menarik
membosankan / nggak seru
enak / lezat
nggak enak / gawat
imut
sibuk
seru / menyenangkan
luas / lapang
sempit
jauh
dekat
cepat / awal
lambat
panjang / lama
pendek (panjang) / singkat
merah
biru; hijau (untuk lampu, tumbuhan, dll)
putih
hitam
kuning
cerah
gelap
cantik / indah / bersih
tenang / sepi / sunyi
sehat / bersemangat / oke
praktis / nyaman / mudah dipakai
ramai / meriah / hidup
megah / mengesankan / hebat
penting / berharga
nganggur / waktu luang / santai
tidak apa-apa / oke / baik-baik saja
tidak begitu / tidak terlalu (+ negatif)
banget / sangat
sungguh / beneran / kebenaran
banyak
Kata sifat digunakan untuk mendeskripsikan keadaan, perasaan, atau sifat suatu benda. Uniknya, bahasa Jepang membagi kata sifat ke dalam DUA kelompok besar yang memiliki aturan tata bahasa yang sangat berbeda. Anda WAJIB menghafal sebuah kata sifat masuk ke kelompok mana.
1. Kata Sifat-i: Kata sifat yang huruf terakhirnya PASTI berakhiran huruf 'i' (ã). Contoh: 大ãã (Ookii - Besar), éĢã (Takai - Tinggi/Mahal), æã (Atsui - Panas). 2. Kata Sifat-na: Kata sifat selain akhiran 'i'. Contoh: éã (Shizuka - Tenang), čĻĒå (Shinsetsu - Ramah). â ī¸ JEBAKAN: Ada kata yang berakhiran 'i' tetapi sebenarnya adalah Kata Sifat-na! Yaitu: ããã (Kirei - Cantik/Bersih) dan ãããã (Yuumei - Terkenal). Ingat baik-baik kedua kata ini!
Untuk membuat kalimat positif, caranya sama persis untuk kedua jenis kata sifat: Cukup tambahkan 'desu' di belakang kata sifat tersebut.
"Gunung Fuji tinggi. (Kata Sifat-i)"
"Saudari Maria cantik. (Kata Sifat-na: ingat, kata 'Kirei' tidak pakai 'na' jika di akhir kalimat)"
Nah, di sinilah perbedaannya terlihat jelas!
âĸ Kata Sifat-na: Sama seperti kata benda, ubah 'desu' menjadi 'ãããããžãã' (ja arimasen). âĸ Kata Sifat-i: HAPUS huruf 'i' (ã) paling belakang, lalu ganti menjadi 'ããĒãã§ã' (-kunai desu). Jangan pakai ja arimasen!
"Kota ini TIDAK tenang. (Kata Sifat-na -> ja arimasen)"
"Teh ini TIDAK panas. (Kata Sifat-i: Atsui -> Atsukunai)"
Kata sifat 'ãã' (Ii) yang berarti 'Bagus/Baik' adalah pengecualian. Saat diubah menjadi negatif, bentuknya berubah ke akar kata aslinya (Yoi) menjadi 'ãããĒãã§ã' (Yokunai desu - Tidak bagus).
Jika Anda ingin menggabungkan kata sifat langsung dengan kata benda (Contoh: Mobil yang mahal, Orang yang ramah), aturannya berbeda lagi.
âĸ Kata Sifat-i: Langsung tempelkan saja. (Takai + Kuruma -> Takai kuruma). âĸ Kata Sifat-na: WAJIB ditambahkan huruf 'ãĒ' (Na) di antara kata sifat dan kata benda. Inilah alasan mengapa mereka disebut Kata Sifat-na! (Shinsetsu + Hito -> Shinsetsu na hito).
"Saya minum air YANG dingin. (Sifat-i)"
"Karina adalah orang YANG ramah. (Sifat-na)"
"Bapak Watt adalah guru YANG tampan/bersih. (Kirei adalah Sifat-na!)"
Untuk menegaskan tingkat kata sifat, gunakan 'ã¨ãĻã' (Totemo) yang berarti 'Sangat', dan 'ããžã' (Amari) yang berarti 'Tidak begitu / Tidak terlalu'. Ingat, kata 'Amari' WAJIB diikuti oleh kata sifat bentuk NEGATIF.
"Kereta bawah tanah Jepang SANGAT praktis."
"Kamera ini TIDAK BEGITU mahal. (Amari + Negatif)"
Dengarkan percakapan antara Yamada dan Maria (seorang asing yang baru pindah ke Jepang). Perhatikan penggunaan kata tanya 'Dou' (Bagaimana).
"[Yamada] Maria, bagaimana kehidupan di Jepang?"
"[Maria] Setiap hari sibuk, TETAPI sangat menyenangkan. ('ga' di tengah kalimat berarti 'tetapi')"
"[Yamada] Makanannya bagaimana?"
"[Maria] Enak, tetapi mahal."