๐
Initializing NihongoRoute
Di bab ini, Anda akan belajar membedakan kata kerja transitif dan intransitif, menyatakan keadaan suatu benda (seperti terbuka/tertutup), serta mengekspresikan tindakan yang telah tuntas atau penyesalan akibat suatu kecerobohan.
department store / toko serba ada
bank
kantor pos
perpustakaan
galeri seni
sekarang / saat ini
waktu / saat / ketika
sepersepuluh / sepuluh persen
setengah / separuh
pagi (sebelum jam 12 / AM)
siang/sore (setelah jam 12)
pagi (waktu)
siang hari
malam (waktu)
malam
kemarin lusa (dua hari lalu)
kemarin
hari ini
besok
lusa (dua hari lagi)
pagi ini
malam ini
istirahat / libur / absen
istirahat makan siang
pemeriksaan
pertemuan
film
Dalam bahasa Jepang, banyak kata kerja memiliki pasangan: Transitif (Tadoushi) dan Intransitif (Jidoushi). Kata kerja Transitif butuh objek dan seseorang yang melakukannya (Contoh: Saya membuka pintu -> Doa o akemasu). Sedangkan kata kerja Intransitif terjadi dengan sendirinya atau fokus pada hasil kejadiannya saja tanpa mempedulikan siapa pelakunya (Contoh: Pintunya terbuka -> Doa ga akimasu).
Kata kerja Transitif (Tadoushi) selalu menggunakan partikel ใ (o). Sedangkan kata kerja Intransitif (Jidoushi) selalu menggunakan partikel ใ (ga).
Ketika kita melihat sebuah benda dan ingin mendeskripsikan kondisinya saat ini (akibat dari kejadian sebelumnya), kita menggunakan Kata Kerja Intransitif bentuk ~te + imasu. Ini diterjemahkan sebagai awalan 'ter-' dalam bahasa Indonesia.
"Jendelanya tertutup. (Kondisi saat ini tertutup)"
"AC-nya menyala."
"Komputer ini rusak. (Jika ingin menjadikan benda sebagai topik pembicaraan, partikel 'ga' bisa diganti 'wa')"
Pola '~te shimaimashita' (lampau) atau '~te shimaimasu' (akan datang) digunakan untuk menekankan bahwa sebuah tindakan telah diselesaikan 100% tanpa sisa, atau komitmen untuk menyelesaikannya sampai tuntas.
"Buku ini sudah selesai saya baca semuanya (sampai tuntas)."
"Anggur yang dibeli sudah habis diminum semuanya."
"Saya akan menyelesaikan (menulis sampai tuntas) laporannya paling lambat besok."
Selain bermakna 'selesai', pola ini juga memiliki makna ganda yang sangat populer: menyatakan perasaan menyesal, kaget, atau kecewa karena melakukan suatu kesalahan atau kejadian buruk menimpa kita.
Dalam bahasa Indonesia, pola ini sering disejajarkan dengan kata 'Waduh', 'Terlanjur', atau awalan 'ke-'. (Contoh: Waduh, ketinggalan! / Dompetku terjatuh!).
"Saya (waduh/tanpa sengaja) menghilangkan paspor."
"Saya (menyesal/terlanjur) kelupaan payung di dalam kereta."
"Saya menjatuhkan gelas, dan (tanpa sengaja) membuatnya pecah."
Ari datang ke kantor manajemen apartemen dengan wajah panik karena ia melakukan sebuah kesalahan. Ia berbicara dengan Sato.
"[Ari] Bapak Sato, maaf. Saya (waduh) telah menghilangkan kunci kamar..."
"[Sato] Eh, hilangnya di mana?"
"[Ari] Tidak tahu. Karena tas saya (dalam keadaan) terbuka, saya pikir saya telah menjatuhkannya di jalan."
"[Sato] Kalau begitu, saya akan buatkan kunci baru. Tolong tunggu sebentar."